Selasa, Agustus 18, 2009

We Must Go



God of Justice, Saviour to all
Came to rescue the weak and the poor
Chose to serve and not be served
Jesus, You have called us
Freely we’ve received
Now freely we will give

We must go live to feed the hungry
Stand beside the broken
We must go
Stepping forward keep us from just singing
Move us into action
We must go

To act justly everyday
Loving mercy in everyway
Walking humbly before You God
You have shown us, what You require
Freely we’ve received
Now freely we will give

Fill us up and send us out
Fill us up and send us out
Fill us up and send us out Lord


ini adalah sebuah lirik lagu "we must go [God of Justice]" dari Tim Hughes, liriknya mengajarkan kita untuk don't just singing but do something. Sebuah lirik yang bagus, pertanyaannya sudahkah kita melakukan apa yang ada di lirik lagu ini? Terkadang kita cukup bangga dengan pelayanan kita digereja baik sebagai pemusik, ketua Youth, multimedia, atau apapun juga. 

Lagu ini juga mengajarkan kita bahwa ibadah kita jangan hanya mentok di tembok gereja,  karena ibadah kita yang sesungguhnya adalah di luar tembok gereja.

God Bless us all

Senin, Agustus 10, 2009

Act speak louder than Word



Act speak louder than word! Percaya atau tidak, demikianlah kenyataannya. Orang jauh lebih memperhatikan apa yang kita lakukan dibanding apa yang kita katakan.

Sayangnya kita sebagai umat kristen, sering kali terjebak dalam situasi yang semu. Semu disini berarti seakan-akan kita orang yang rohani [berbicara rohani de es be] namun dalam kehidupan sehari-hari kita justru tidak rohani. Sebenarnya menjadi orang kristen itu adalah sebuah tugas yang berat. Kenapa berat, karena seperti asal kata kristen yang berarti pengikut kristus, maka dalam kehidupan kita, kita juga diharapkan mencerminkan kekristenan kita.

Hal yang paling sederhana dari kekristenan adalah kasih. Sederhana karena paling mudah untuk dilaksanakan, namun juga paling powerful. Sering kali kita nampak sebagai malaikat di gereja tetapi monster didalam rumah kita sendiri. Ada sebuah cerita tentang seorang ibu yang hendak pindah ke gereja dan tinggal disana. Seluruh keluarga bingung, kenapa dia ingin pindah ke gereja, sementara dia sendiri punya rumah yang nyaman. Ternyata sang ibu berkata, karena di gereja sang suami bagaikan malaikat, sedang dirumah ia kerap bertindak kasar. 

Act speak louder than word! bayangkan jika kita kerap bersikap baik sama tetangga, murah senyum, dan sebagainya, saya rasa orang juga akan melihatnya sebagai hal positif. Sampai pada satu titik mereka akan berkata, 'oh orang kristen itu baik-baik ya...' Sebaliknya jika kita kerap berkata atau bertindak kurang menyenangkan dalam lingkungan kita orang bisa berkata 'ih...ternyata orang kristen tuh kaya gitu ya, sombong, ga ramah de es be'. Semua atribut kekristenan yang kita pakai, hanya akan mempermalukan nama Tuhan, jika kita tidak bisa menyatakan kasih dalam setiap aspek hidup kita. Sebaliknya, segala kebaikan yang kita lakukan untuk kemuliaan nama Tuhan, jauh lebih baik dari semua atribut kekristenan.

Don't just say something...DO SOMETHING [nice and full with love], God Bless



Rabu, Agustus 05, 2009

Hamba Tuhan Kejar Setoran...Salah Siapa?



Sudah jadi rahasia umum, apabila di gereja-gereja tertentu, para hamba Tuhan diberikan ucapan terima kasih atas pelayanannya dengan menggunakan uang, atau lebih dikenal dengan PeKa, alias persembahan kasih.

Fakta yang paling menarik adalah, bahwa banyak hamba Tuhan [tidak hanya pendeta] yang menjadikan pelayanan sebagai ladang mencari uang. Sehingga terjadi pergeseran dalam hal motivasi. Pelayanan bukan lagi untuk menyenangkan hati Tuhan, melainkan mencari uang, bahkan tidak sedikit hamba Tuhan yang menjadikan pelayanan sebagai profesi.

Jika sudah begini siapakah yang salah? Apakah sistem pemberian PeKa oleh gereja yang salah? ataukah individunya yang salah? dan apakah para hamba Tuhan tidak boleh menjadi kaya atau makmur? Well, I think sah-sah aja kalo Gereja terbeban memberikan sesuatu kepada para hamba Tuhan yang melayani di gereja mereka. Apalagi jika mereka mampu memberikannya. En yang paling pasti tidak ada ayat di alkitab yang mengatakan bahwa hamba Tuhan haruslah miskin, melarat, hidup susah atau apapun juga.

So siapakah yang salah? semua kembali ke hati masing-masing. Tuhan tidak pernah lupa memberkati hambaNya. Namun sering kali kita terkecoh dengan kata 'berkat'. Kita kerap mengasosiasikan 'berkat' dengan uang atau kekayaan atau kemakmuran. Padahal 'berkat' tidak hanya melulu soal uang atau kekayaan. Kesehatan, umur panjang, kebahagiaan dan lain-lain adalah juga berkat dari Tuhan. Yang paling pasti dan sering dilupakan orang adalah Tuhan tidak menjanjikan berkat yang berkelimpahan, tetapi Tuhan menjamin kita tidak akan kekurangan.

Banyak para hamba Tuhan berperilaku seperti orang yang ngejar setoran. Kalau bisa 10 kali melayani dalam sehari, dia akan lakukan itu. Mungkin pelayanan pertama sampai ketiga, ia masih bisa melayani dengan baik. Dalam artian masih bugar, masih konsentrasi dan sebagainya. Memasuki pelayanan ke empat dan seterusnya, baik kebugaran dan konsentrasinya pasti sudah mulai menurun. Yang berakibat, apa yang mereka berikan ke Tuhan tidaklah semaksimal seharusnya. Seringkali saya menemukan seorang hamba Tuhan, yang nampak tergopoh-gopoh datang ke gereja, terus langsung melayani, padahal dia datang terlambat [I'm not talking about preachers only, but most of His servant]. Jika sudah demikian apakah dia sempat bersaat teduh sejenak, atau memohon kepada Tuhan agar ia dilayakkan untuk melayani? let's face it, dia mungkin baru melayani disebuah tempat yang jaraknya lumayan jauh, en diperjalanan pasti banyak gangguan yang datang, yang mungkin mencemarkan hati dan pikiran kita. If so, apakah persembahan yang kita berikan kepada Tuhan benar-benar layak. Persembahan di sini bukan uang, tetapi pelayanan kita.

Sebenarnya bukanlah sebuah masalah jika ia benar-benar mampu menjaga hati dan pikirannya dan juga mampu memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Jika kita sanggup memberikan 100% dalam setiap pelayanan yang kita berikan, maka 10 kalipun tidak masalah. Yang jadi masalah apabila 10 kali itu dilakukan bukan untuk dasar menyenangkan hati Tuhan tetapi menebalkan kantong. Yang tentunya mengabaikan 100% yang harus diberikan kepada Tuhan.

Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu. Melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan. Sebagai gambaran jika abdi dalem di keraton Yogyakarta melayani tuannya dengan penuh loyalitas dan tanggung jawab [meskipun konon mereka tidak mendapatkan bayaran yang 'wah'], masa kita tidak bisa seperti itu. Jangan jadikan pelayanan sebagai ladang mencari uang, tetapi jadikan pelayanan sebagai ajang untuk menyenangkan hati Tuhan. Dia yang empunya segala sesuatu pasti akan memenuhi kebutuhan kita, tanpa kita minta.

GBU









 

One Way Living Blak Magik is Designed by productive dreams for smashing magazine Bloggerized by Ipiet © 2009