
Sudah jadi rahasia umum, apabila di gereja-gereja tertentu, para hamba Tuhan diberikan ucapan terima kasih atas pelayanannya dengan menggunakan uang, atau lebih dikenal dengan PeKa, alias persembahan kasih.
Fakta yang paling menarik adalah, bahwa banyak hamba Tuhan [tidak hanya pendeta] yang menjadikan pelayanan sebagai ladang mencari uang. Sehingga terjadi pergeseran dalam hal motivasi. Pelayanan bukan lagi untuk menyenangkan hati Tuhan, melainkan mencari uang, bahkan tidak sedikit hamba Tuhan yang menjadikan pelayanan sebagai profesi.
Jika sudah begini siapakah yang salah? Apakah sistem pemberian PeKa oleh gereja yang salah? ataukah individunya yang salah? dan apakah para hamba Tuhan tidak boleh menjadi kaya atau makmur? Well, I think sah-sah aja kalo Gereja terbeban memberikan sesuatu kepada para hamba Tuhan yang melayani di gereja mereka. Apalagi jika mereka mampu memberikannya. En yang paling pasti tidak ada ayat di alkitab yang mengatakan bahwa hamba Tuhan haruslah miskin, melarat, hidup susah atau apapun juga.
So siapakah yang salah? semua kembali ke hati masing-masing. Tuhan tidak pernah lupa memberkati hambaNya. Namun sering kali kita terkecoh dengan kata 'berkat'. Kita kerap mengasosiasikan 'berkat' dengan uang atau kekayaan atau kemakmuran. Padahal 'berkat' tidak hanya melulu soal uang atau kekayaan. Kesehatan, umur panjang, kebahagiaan dan lain-lain adalah juga berkat dari Tuhan. Yang paling pasti dan sering dilupakan orang adalah Tuhan tidak menjanjikan berkat yang berkelimpahan, tetapi Tuhan menjamin kita tidak akan kekurangan.
Banyak para hamba Tuhan berperilaku seperti orang yang ngejar setoran. Kalau bisa 10 kali melayani dalam sehari, dia akan lakukan itu. Mungkin pelayanan pertama sampai ketiga, ia masih bisa melayani dengan baik. Dalam artian masih bugar, masih konsentrasi dan sebagainya. Memasuki pelayanan ke empat dan seterusnya, baik kebugaran dan konsentrasinya pasti sudah mulai menurun. Yang berakibat, apa yang mereka berikan ke Tuhan tidaklah semaksimal seharusnya. Seringkali saya menemukan seorang hamba Tuhan, yang nampak tergopoh-gopoh datang ke gereja, terus langsung melayani, padahal dia datang terlambat [I'm not talking about preachers only, but most of His servant]. Jika sudah demikian apakah dia sempat bersaat teduh sejenak, atau memohon kepada Tuhan agar ia dilayakkan untuk melayani? let's face it, dia mungkin baru melayani disebuah tempat yang jaraknya lumayan jauh, en diperjalanan pasti banyak gangguan yang datang, yang mungkin mencemarkan hati dan pikiran kita. If so, apakah persembahan yang kita berikan kepada Tuhan benar-benar layak. Persembahan di sini bukan uang, tetapi pelayanan kita.
Sebenarnya bukanlah sebuah masalah jika ia benar-benar mampu menjaga hati dan pikirannya dan juga mampu memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Jika kita sanggup memberikan 100% dalam setiap pelayanan yang kita berikan, maka 10 kalipun tidak masalah. Yang jadi masalah apabila 10 kali itu dilakukan bukan untuk dasar menyenangkan hati Tuhan tetapi menebalkan kantong. Yang tentunya mengabaikan 100% yang harus diberikan kepada Tuhan.
Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu. Melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan. Sebagai gambaran jika abdi dalem di keraton Yogyakarta melayani tuannya dengan penuh loyalitas dan tanggung jawab [meskipun konon mereka tidak mendapatkan bayaran yang 'wah'], masa kita tidak bisa seperti itu. Jangan jadikan pelayanan sebagai ladang mencari uang, tetapi jadikan pelayanan sebagai ajang untuk menyenangkan hati Tuhan. Dia yang empunya segala sesuatu pasti akan memenuhi kebutuhan kita, tanpa kita minta.
GBU
Fakta yang paling menarik adalah, bahwa banyak hamba Tuhan [tidak hanya pendeta] yang menjadikan pelayanan sebagai ladang mencari uang. Sehingga terjadi pergeseran dalam hal motivasi. Pelayanan bukan lagi untuk menyenangkan hati Tuhan, melainkan mencari uang, bahkan tidak sedikit hamba Tuhan yang menjadikan pelayanan sebagai profesi.
Jika sudah begini siapakah yang salah? Apakah sistem pemberian PeKa oleh gereja yang salah? ataukah individunya yang salah? dan apakah para hamba Tuhan tidak boleh menjadi kaya atau makmur? Well, I think sah-sah aja kalo Gereja terbeban memberikan sesuatu kepada para hamba Tuhan yang melayani di gereja mereka. Apalagi jika mereka mampu memberikannya. En yang paling pasti tidak ada ayat di alkitab yang mengatakan bahwa hamba Tuhan haruslah miskin, melarat, hidup susah atau apapun juga.
So siapakah yang salah? semua kembali ke hati masing-masing. Tuhan tidak pernah lupa memberkati hambaNya. Namun sering kali kita terkecoh dengan kata 'berkat'. Kita kerap mengasosiasikan 'berkat' dengan uang atau kekayaan atau kemakmuran. Padahal 'berkat' tidak hanya melulu soal uang atau kekayaan. Kesehatan, umur panjang, kebahagiaan dan lain-lain adalah juga berkat dari Tuhan. Yang paling pasti dan sering dilupakan orang adalah Tuhan tidak menjanjikan berkat yang berkelimpahan, tetapi Tuhan menjamin kita tidak akan kekurangan.
Banyak para hamba Tuhan berperilaku seperti orang yang ngejar setoran. Kalau bisa 10 kali melayani dalam sehari, dia akan lakukan itu. Mungkin pelayanan pertama sampai ketiga, ia masih bisa melayani dengan baik. Dalam artian masih bugar, masih konsentrasi dan sebagainya. Memasuki pelayanan ke empat dan seterusnya, baik kebugaran dan konsentrasinya pasti sudah mulai menurun. Yang berakibat, apa yang mereka berikan ke Tuhan tidaklah semaksimal seharusnya. Seringkali saya menemukan seorang hamba Tuhan, yang nampak tergopoh-gopoh datang ke gereja, terus langsung melayani, padahal dia datang terlambat [I'm not talking about preachers only, but most of His servant]. Jika sudah demikian apakah dia sempat bersaat teduh sejenak, atau memohon kepada Tuhan agar ia dilayakkan untuk melayani? let's face it, dia mungkin baru melayani disebuah tempat yang jaraknya lumayan jauh, en diperjalanan pasti banyak gangguan yang datang, yang mungkin mencemarkan hati dan pikiran kita. If so, apakah persembahan yang kita berikan kepada Tuhan benar-benar layak. Persembahan di sini bukan uang, tetapi pelayanan kita.
Sebenarnya bukanlah sebuah masalah jika ia benar-benar mampu menjaga hati dan pikirannya dan juga mampu memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Jika kita sanggup memberikan 100% dalam setiap pelayanan yang kita berikan, maka 10 kalipun tidak masalah. Yang jadi masalah apabila 10 kali itu dilakukan bukan untuk dasar menyenangkan hati Tuhan tetapi menebalkan kantong. Yang tentunya mengabaikan 100% yang harus diberikan kepada Tuhan.
Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu. Melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan. Sebagai gambaran jika abdi dalem di keraton Yogyakarta melayani tuannya dengan penuh loyalitas dan tanggung jawab [meskipun konon mereka tidak mendapatkan bayaran yang 'wah'], masa kita tidak bisa seperti itu. Jangan jadikan pelayanan sebagai ladang mencari uang, tetapi jadikan pelayanan sebagai ajang untuk menyenangkan hati Tuhan. Dia yang empunya segala sesuatu pasti akan memenuhi kebutuhan kita, tanpa kita minta.
GBU

0 komentar:
Posting Komentar