Senin, Juli 13, 2009

PERSEMBAHAN KASIH



Gereja di era modern ini mengalami perkembangan. banyak gereja baru yang bermunculan terutama di kota besar. perkembangan ini memunculkan fenomena baru, yaitu Persembahan Kasih.

PERSEMBAHAN KASIH SEBAGAI UPAH

Tidak jelas sejak kapan sebenarnya fenomena PeKa ini dimulai, yang pasti saat ini, hampir gereja-gereja di kota besar memberikan PeKa kepada para pengerjanya. Posisi Persembahan Kasih ini sebenarnya mirip dengan pemberian upah atau insentif kepada para pihak yang terlibat di dalam pelayanan.

Layaknya Upah, tentu besaran dari PeKa berbeda-beda satu dengan yang lain. Bahkan lain gereja, sudah pasti lain PeKa. Gereja yang besar, biasanya memberikan jumlah PeKa yang cukup besar juga. Sedangkan yang kecil, PeKa juga kecil.

Tidak ada standar yang pasti dalam menentukan jumlah PeKa. Pada satu jenis pelayanan, misalkan pemusik atau singer, di Gereja A bisa mencapai, Rp. 100.000 – Rp. 200.000, di Gereja B bisa Rp. 25.000 – Rp.30.000,-. Begitu juga dengan Pendeta. Di satu Gereja seorang pendeta bisa mendapatkan PeKa sampai dengan Rp. 1,5 juta, digereja lain mungkin hanya sekitar Rp. 100.000 – 500.000.

PERANAN PEKA DALAM PELAYANAN

Persembahan Kasih dalam pelayanan menjadi suatu kontroversi sendiri. Karena tidak semua gereja memiliki pemahaman yang sama tentang persembahan Kasih. Ada gereja yang menilai PeKa sebagai bagian dari Ibadah, ada gereja yang menganggap PeKa bukan bagian dari ibadah.

Sebenarnya apa sih peranan PeKa dalam pelayanan Gereja?. Seperti yang dijelaskan di atas, ada kecenderungan PeKa memiliki fungsi seperti halnya upah. Yaitu sebagai imbalan atas apa yang diberikan oleh para pengerja terhadap gereja. Gereja, melalui PeKa ingin memberkati para pengerjanya. Hal yang wajar mengingat dalam kehidupan sekuler pun kita mendapatkan gaji, masa di dalam Tuhan tidak? Ada sebagian kalangan menilai, melayani Tuhan harus sukarela. Jikalau demikian, mana yang benar.

Kedua anggapan tersebut benar adanya. Benar dalam melayani Tuhan kita harus sukarela, dan adalah juga benar, bila kita melayani Tuhan dapat berkat. Semua kembali kepada gereja-gereja itu sendiri. Karena secara financial, kita ga mungkin menuntut sebuah gereja untuk membayar PeKa, sementara untuk operasionalnya saja sulit. Kita juga tidak mungkin melarang sebuah gereja memberikan PeKa kalau mereka memang berkelebihan, sehingga mampu memberikan berkat dalam bentuk uang.

BAGAIMANA KITA MENYIKAPI PEKA?

Sebagai kaum muda, kita perlu menyikapi fenomena PeKa ini dengan kejujuran hati. Yaitu kemana hati kita terarah : Uang atau Tuhan? Sikap ini diperlukan, agar kita tidak terjerumus kedalam pemahaman yang salah tentang PeKa. Bagaimana sih pemahaman yang salah tentang PeKa? Yaitu jika kita menganggap PeKa sebagai tolak ukur kita dalam pelayanan. Misalkan kita hanya melayani jikalau PeKanya mencukupi standar yang kita buat. Jika PeKanya kurang kita akan menolak. Atau membuat skala prioritas berdasarkan jumlah PeKa, yang paling tinggi itu yang didahulukan.

Sebagai kaum muda, kita harus bersyukur kita bisa melayani Tuhan, karena banyak orang diluar sana yang pengen melayani, bahkan gratis tanpa PeKa tapi ga dapet kesempatan buat pelayanan. Alangkah bodohnya kita jika menolak kesempatan hanya karena PeKa.

So, Guys don’t make PeKa as a target to bid, but put the heart to serve first

0 komentar:

Posting Komentar

 

One Way Living Blak Magik is Designed by productive dreams for smashing magazine Bloggerized by Ipiet © 2009